Selasa, 29 November 2011

Pendidikan dan Nilai


Pendidikan dan Nilai
Pendidikan dapat dimaknai dalam pengertian sempit, luas, dan luas terbatas. Dalam arti sempit pendidikan diartikan dengan schooling atau persekolahan (formal). Dalam arti luas, pendidikan diartikan dengan seluruh pengalaman belajar seseorang (individu) sepanjang hayat. Sedangkan dalam pengertian luas terbatas dapat dilihat dalam rumusan pendidikan menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 yang intinya pendidikan dapat berlangsung di rumah, sekolah dan masyarakat.
Arah Pengembangan Pendidikan: 1) Pengembangan manusia sebagai makhluk individu. Pendidikan memberi bantuan agar peserta didik menolong dirinya sendiri; 2) Pengembangan manusia sebagai makhluk sosial, yaitu manusia yang selalu berinteraksi dengan sesamanya; 3) Pengembangan manusia sebagai makhluk susila. Artinya manusia sebagai makhluk Allah memiliki potensi untuk mentaati norma-norma  dan nilai-nilai susila yang ada dimasyarakat. Potensi ini tidak berkembang dan berfungsi jika tidak digerakkan melalui pendidikan; 4) Pengembangan manusia sebagai makhluk beragama. Potensi ini dapat dikembangkan melalui pendidikan agar peserta didik dapat mewujudkan potensi beragamanya dalam kehidupan sehari-hari.
Fungsi pendidikan: Pendidikan berfungsi sebagai pengembangan potensi atau fitrah. Menumbuhkan berbagai potensi dan kecerdasan (banyak kecerdasan) yang dimiliki manusia; Pendidikan berfungsi sebagai pewarisan budaya. Bermakna pendidikan berfungsi melestrikan dan mempertahankan kebudayaan, nilai dan peradaban manusia; Pendidikan berfungsi mengembangkan potensi manusia dalam persiapannya menghadapi lingkungan, termasuk budaya yang berkembang dalam masyarakat;  Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; Bertujuan untuk bekembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Bab II pasal 3).
Pendidikan Nilai: Istilah nilai (value) diartikan “harga”, bernilai artinya berharga. Segala sesuatu pasti berharga (A. Tafsir); Nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya. Maknanya nilai masuk wilayah psikologis, yaitu sebagai kecenderungan berprilaku yang berawal dari gejala-gejala psikologis, nilai bisa juga keyakinan. Seperti hasyrat, dan motif sikap awal dari munculnya nilai /keyakinan. (Gordon Allport); Nilai adalah standar yang dipegang oleh seseorang dan dijadikan dasar untuk membuat pilihan hidup (Copp sebagaimana dikutip oleh Sofyan Sauri); Seorang antropolog memandang nilai sebagai “harga” yang melekat pada budaya masyarakat. Seperti bahasa, adat kebiasaan Sedangkan ekonom memandang nilai sebagai “harga” suatu produk dan pelayanan yang dapat diandalkan untuk kesejatraan manusia; Nilai adalah sesuatu yang berharga baik menurut standar logika (benar-salah), estetika (bagus-buruk), etika (adil/layak-tidak adil), agama (halal-haram), hukum (sah-absah) serta menjadi acuan atau sistem keyakinan diri maupun kehidupan (A. Kosasih Djahiri); Nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan (Rohmat Mulyana). Menurut Raths sebagaimana dikutip Sofyan Sauri, terdapat beberapa indikator yang menunjukkan nilai (value) seseorang, yaitu : Tujuan yang ingin dicapai, Aspirasi, Sikap, Minat, Perasaan, Keyakinan, Aktivitas, Kekhawatiran dan problem yang dihadapi.
Menurut Rohmat Mulyana, ada empat definisi nilai yang masing-masing memiliki penekanan yang berbeda, yaitu : Nilai sebagai keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya; Nilai sebagai patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menetukan pilihannya diantara cara-cara tindakan alternatif ; Nilai sebagai keyakinan individu secara psikologis atau nilai patokan normatif secara sosiologi; Nilai sebagai konsepsi (sifatnya membedakan individu atau kelompok), dari apa yang diinginkan, yang mempengaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir tindakan; Nilai sebagai hal yang abstrak; Nilai dihadapkan pada dua hal yang bersebrangan, yaitu: Nilai bersifat material, seperti dibicarakan dalam nilai ekonomi yang disandarkan pada produk, kesejahtraan, dan harga dan Mewakili gagasan atau makna yang abstrak dan sulit diukur, seperti keadilan,kejujuran, kebebasan, kedamaian dan persamaan;
Perbedaan pendidikan Nilai: Pengetian nilai berbeda-beda oleh karena sudut pandangnya yang berbeda; Sosiologi, nilai didasarkan pada kebutuhan, kesenangan, dan saksi masyarakat; Psikologi, nilai dimanefestasikan pada kecendrungan prilaku yang berawal dari gejala-gejala psikologis, sperti hasyrat, sikap dan motif; Antropologi , nilai adalah “harga” yang melekat pada pola budaya msyarakat seperti, bahasa, adat kebiasaan.
Landasan Nilai (Value Based): Logik, Etik, Estetik, sedangkan isi pesan (norma), meliputi: Agama; Keilmuan; Politik, sosial dan budaya; Hukum positif; Adat dan budaya. Nilai atau value yang selalu terkait dengan konsep dapat muncul dari (bersumber pada) salah satu atau beberapa landasan (value Base) di atas atau dari ketiga-tiganya. Contoh, bahagia landasan bisa dari logika, etika atau estetika.  
Karaktristik Nilai: Nilai merupakan kualitas empirik yang tidak dapat didefinisikan tetapi kita dapat mengalami dan memahami secara langsung kualitas yang terdapat pada obyek itu (ada tolak ukur); Nilai sebagai obyek dari suatu kepentingan (subyek); Nilai adalah sebagai hasil dari pemberian nilai.
Kaitan Nilai dengan Istilah lain: Nilai dengan fakta; Nilai dengan tindakan; Nilai dengan norma atau aturan yang berlaku di masyarakat; Nilai dengan moral atau adat kebiasaan atau moral; Nilai dengan etika.
Hirarki Nilai: Max scheler, hirarki nilai dapat dikelompokan kedaam empat tingkatan, yaitu :Nilai kenikmatan, nilai yang menyenagkan atau sebaliknya, yang kemudian orang merasa bahagia atau menderita; Nilai kehidupan, pada tingkatan ini terdapat nilai yang penting bagi kehidupan, misalnya kesehatan, kesegaran badan dan kesejahtraan umum; Nilai kejiwaan, nilai yang sama sekali tidak tergantung pada keadaan jasmani, seperti nilai keindahan, kebenaran dan pengetahuan murni yang dicapai melalui filafat; Nilai kerohanian, nilai yang suci.
Nilai Barat (posivistik): Humanisme-Rasionalisme-Positivisme-Metode Ilmiah-Metode Riset: aturan untuk mengatur manusia dan alam.
Macam nilai: Dilihat dari segi kebutuhan hidup manusia, menurut Abraham Maslow, meliputi:Nilai biologis; Nilai keamanan; Nilai cinta kasih; Nilai harga diri; Nilai jati diri (kesemuanya disebut “Basic Need”) Dilihat dari kemampuan jiwa manusia untuk menangkap dan mengembangkan nilai, meliputi: Nilai  yang statis, seprti emosi dan Nilai bersifat dinamis, seperti motivasi berprestasi. Dilihat dari pendekatan proses budaya, meliput: Nilai ilmu pengetahuan; Nilai ekonomi; Nilai keindahan; Nilai politik; Nilai keagamaan; Nilai kekeluargaan; Nilai kejasmanian (Noeng Muhadjir). Didasarkan atas sifat nilai, meliputi : Nilai bersifat subyektif, nilai yang merupakan reaksi subyek terhadap obyek- tergantung pada subyek masing-masing; Nilai subyektif rasional, nilai yang merupakan esensi dari obyek secara logis yang dapat diketahui akal sehat; Nilai obyektif, seperti nilai agama. Dilihat dari sumbernya, meliputi: Nilai Ilahiyah (wahyu); Nilai Insaniyah, diciptakan dan kriteria manusia. Dilihat dari segi ruanglingkup dan keberlakuannya, meliputi: Nilai-nilai universal; Nilai-nilai lokal; Nilai-nilai temporal. Ditinjau dari segi hakikatnya, meliputi : Nilai hakiki, nilai dasar bersifat universal dan abadi; Nilai instrumental, nilai bersifat lokal, pasangsurut dan temporal.
Struktur Nilai Menurut Noer Muhadjir: Nilai Ilahiyah yang terdiri dari nilai ubudiyah dan nilai muamalah; Nilai Etik insaniyah yang terdiri dari : Rasional, Sosial, Individual, Ekonomi, Politik, Biofisik, Dan lain-lain.


Klasifikasi Nilai: pembagian nilai yang didasarkan pada sifat-sifat nilai itu sendiri dalam tatanan hierarkinya (Nilai terminal dan instrumental; nilai intrinsic dan ekstrinsik; nilai personal dan nilai sosial; nilai subjektif dan objektif).
Katagorisasi Nilai: Nilai teoritik (nilai yang melibatkan pertimbangan logis dan rasional dalam memikirkan dan membuktikan kebenaran sesuatu), nilai ekonomis (nilai yang terkait dengan pertimbangan nilai yang berkadar untung rugi “harga”). Nilai estetik (meletakan nilai tertingginya pada bentuk keharmonisan), nilai sosial (nilai tertinggi yang terdapat pada nilai ini adalah kasih sayang antar manusia), nilai politik (nilai tertinggi dalam nilai ini adalah nilai kekuasaan), nilai agama (nilai yang memiliki dasar kebenaran yang paling kuat dibandingkan dengan nilai-nilai sebelumnya).
Pendidikan nilai adalah pengajaran atau bimbingan kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan bertindak yang konsisten.
Ontologi: 1) hakikat nilai (nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan), 2) Struktur nilai: berdasarkan patokannya (logis, etis dan estetis), berdasarkan klasifikasinya (diatas), berdasarkan katagorinya (diatas), dan berdasarkan hierarkinya (diatas).
Epistimologi: 1) objek nilai; ajaran agama dan prilaku religious, logika filsafat dan karakter berfikir filosofis, teori ilmu pengetahuan dan dan sikap ilmiah, norma dan prilaku etis, adat kebiasaan dan prilaku taat adat, karya seni dan prilaku estetis.
Aksiologi: 1) kegunaan pengetahuan nilai: a) nilai pada wilayah filsafat untuk menentukan cara hidup dalam bermasyarakat dan beragama. b) nilai pada wilayah ilmu pengetahuan untuk mempercepat kesadaran nilai dan memperbaiki tingkah laku manusia. c) nilai pada wilayah mistik untuk mencerahkan batin dalam kesadaran beragama. 2) cara pengetahuan nilai menyelesaikan masalah: a) nilai pada wilayah filsafat dengan cara menelaah akar permasalahan atas lahirnya nilai (BB, BS, ItI). b) nilai pada wilayah ilmu pengetahuan dengan cara penyadaran nilai (keteladanan, pembiasaan, penanaman, penilaian jangka panjang), c) nilai pada wilayah mistik dengan cara wirid, puasa dan shalawat.
Landasan pendidikan nilai: landasan filosofis, psikologis dan estetik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar